Orang-Orang Yang Melepas Rindu

Menyentuhnya adalah bayaran yang setimpal saat merasakan rindu.

Marhaban Ya Ramadhan, selamat datang bulan penuh berkah. Di bulan ini akan banyak orang-orang yang akan melepas rindu, apakah termasuk kamu di dalamnya?

Hidup diperantauan menjalani kuliah, rindu adalah hal yang biasa terjadi dikalangan mahasiswa, rindu akan rumah misalnya. Rindu akan teman bermain semasa kecil atau rindu oleh kekasih yang menjalani hubungan LDR.

Bulan ini momen dimana orang beramai-ramai melepas rindu, terlihat dari beberapa teman aku sudah mulai melakukan mudik kedaerah asalnya. Mulai terlihat juga rencana buka bareng dari teman-teman SD,SMP, SMA bahkan kampus, yang biasanya rencana dari awal Ramadan baru terlaksana H-7 bahkan bisa gagal, huh seperti biasa.

Buatku Ramadan kali ini terasa beda, karena memang kubuat berbeda. Selama 3 tahun berkuliah di Jogja aku belum pernah berpuasa disini karena biasanya H-7 sebelum puasa, aku sudah balik ke Samarinda. Tahun ini juga menjadi beda karena, pertama Kakak ku sudah berkeluarga, kedua aku berpuasa di Jogja dan ketiga ada kemajuan skripsi dari tahun lalu.

Namun ada hal yang sama, walaupun banyak hal berbeda yang kudapatkan. Aku tetap rindu rumah.

***

Sekitar pukul 3 aku ditelpon sama Mama dirumah, lebih tepatnya Mama menjadi alarm sahur untuk aku. Sudah bisa ditebak mama hanya mengingatkan “bangun, udah sahur belum? rumah sepi gak ada kamu, makanan gak ada yang ngabisin” aku cuman bisa balas “iya ma” sambil mengucek mata karena baru terbangun.

Telepon itu membuat aku semakin rindu akan rumah semua kebiasaan dirumah, keramaiannya maupun kekosongannya.

Kebiasaan dirumah saat Ramadhan adalah hal yang aku rindu dan tak mungkin terjadi lagi, biasa aku dan teman-temanku tidur dimasjid dan akan bergerilya membangunkan sahur. Setelah itu kami pulang dan setelah subuh aku dan teman-temanku berjalan-jalan sambil bermain petasan, benar kami bukanlah anak yang baik-baik. Saat menjelang siang aku dan teman-temanku menghabiskan bermain playstation. Sungguh melelahkan bukan hari aku saat kecil namun sangat menyenangkan karena kebersamaan bersama teman.

Sekarang kebiasaan itu tidak bisa terulang bukan karena kami sudah dewasa, karena rata-rata teman aku bukan anak-anak lagi tapi sudah menjaga anak. Mereka sangat menyebalkan, begitu cepat berubah padahal dulu kami masih dikejar oleh warga gara-gara petasan itu sekarang teman-teman saya sudah berkeluarga. Entah karena terlalu cepat apa aku yang masih disini-sini saja.

Sedangkan kebiasaan aku dirumah, biasanya saat berbuka dimana Aku dan Bapak akan berselisih soal makanan, apalagi makanan tersebut adalah semangka. Benar semangka, bisa membuat hubungan Aku dan Bapak memanas. Entahlah buah yang menurutku dari surga itu sungguh nikmat disantap kapan saja. Hanya Mama yang bisa membuat kami berdamai, dengan cara yang sangat sederhana. Aku dan Bapak dibelikan semangka masing-masing satu buah.

***

Ramadhan tentu dimana kita saling merasakan lapar bersama-sama dan merasakan kenyang bersama-sama. Rumah sangat ramai sekali tentunya saling berbagi antar tetangga, keluarga lebih sering berkumpul dirumah. Begitu menyenangkan ramadhan membuat rumah menjadi ramai dan teduh. Rumah sangat ramai aku rasa ketika semua sering berkumpul keluarga dan itu sangat menyenangkan sekali, teman-teman lama pun yang jarang sekali atau bahkan tidak lagi berjumpa bisa bertemu saat melaksanakan buka bareng dan itu terjadi di Ramadhan. Meraka sudah menjadi rumah, aku tak perlu merasa gelisah atapun hal yang tidak menenangkan karena dengan adanya mereka rumah menjadi aman.

***

Bagiku rumah aman hanya terjadi 3 tahun yang lalu, setelah itu rumah aku menjadi penuh kekosongan. Sejak Bapak pergi menemui Allah, tidak ada lagi kapten rumah dan anak laki-laki yang tersisa hanyalah aku dan aku belum cukup dewasa saat itu. Saat Ramadhan sangat terasa kekosongan itu, kami keluarga hanya bisa melepas rindu dengan doa-doa harapan semoga makam beliau menjadi taman-taman Surga.

Dibalik dari kebiasaan, keramaian dan kekosongan dari rumah. Rumah yang bisa membuat tidur aku tenang, tanpa memikirkan janji diesok hari .

Allah sudah berbaik hati mempertemukan kita di bulan Ramadhan, hari ini.

Saat aku pulang nanti aku menjadi salah satu orang-orang yang akan melepas rindu, aku akan melepaskan rindu kepada teman-teman, rindu buat mama dan rindu buat Bapak yang sudah disana. Namun hal yang paling utama aku akan melepaskan rindu pada Ramadhan, bulan yang penuh pahala dan penuh doa harapan.***

Written by utautama
Pendengar Yang Mencoba Bercerita

    3 Comments

  1. Rahmad Ariadi. June 23, 2015 at 11:02 pm Reply

    Cerpen banget bro .
    Keren, cuma ini masuk kategori Awesome Journey juga nggak ?

  2. Salika October 9, 2016 at 11:22 pm Reply

    Ramadhan di perantauan.. huaa ngerti banget rasanya gimana. Nice post btw 🙂

Leave a Comment