Berkabar Pada Rindu

Perahu itu singgah lalu berlayar kembali, karena singgah selalu sementara

Cuaca bulan Juni di kota ini sungguh menyenangkan bukan, Juni yang biasanya identik dengan hujan tapi tidak untuk di kota Jogja. Kota ini memberikan cuaca yang bersahabat tidak terlalu panas disiang, sore yang sangat cerah, malam yang dingin dan langit malam yang bersih. Sangat cocok untuk menikmatinya bila bersama kamu.

Ngomong-ngomong, apa rindu ku sudah sampai kepadamu ?

Padahal sudah puluhan kabar rindu yang sudah kukirimkan padamu, apa kurir salah menyampaikan pesannya. Oh, tidak mungkin salah. Tuhan tidak mungkin salah menunjuk kurirnya untuk menyampaikan rindu, doa dari hambanya. Aku mulai berprasangka, apa mungkin Tuhan bercanda terhadapku. Apa mungkin Tuhan ingin berkata, mengapa tak kau katakan saja langsung pada seseorang yang  kamu rindukan tersebut. Tanpa harus melalui puluhan doamu setiap pagi hingga tengah malam, menyebut nama dia diakhir doamu setelah doa-doa buat orang tuamu.

Mungkin ada puluhan pesan yang seharusnya kusentuh tombol send, malah ku hapus kembali. Maka dari itu aku memilih alternatif melalui doa.

Karena rinduku sangat berat tidak cukup hanya sebatas beberapa kalimat pesan

Barangkali kalo aku tahu menahan rindu berakibat seperti ini, tentu aku akan memilih lebih baik tidak jatuh cinta. Bukan, bukan aku menyesal jatuh cinta padamu. Aku hanya kesal dengan jiwa pengecutku ini, apa susahnya sih berucap kalimat rindu. Apa susahnya sih bersikap layaknya Sagitarius yang lainnya, Aku mulai meragukan jiwa kesagitariusanku.

Jika pesan rinduku sampai kepadamu, bila itu mengganggu bagimu, abaikanlah saja. Kamu berhak melakukannya. Karena pasti bukan pesanku yang kamu harapkan kehadirannya, apalagi hanya sebatas pesan rindu dari orang yang tidak bisa membuatmu bahagia. Tapi setidaknya aku tahu kalo pesanku sampai kepadamu, berarti rinduku selama ini tidak salah. Sampai ketujuan yang benar.

Tentu kamu saat ini sedang berpikir tidak enak jika tidak membalas pesan rindu itu, tenang kamu tidak perlu memikirkan cara menolakku dengan sopan, kamu hanya perlu bahagia dengan keadaanmu saat ini. Sejak kita tidak bertegur sapa lagi, tentu kamu sudah mendapatkan bahagia yang kamu ucap dulu kepadaku. Aku dulu terlalu naif bahkan sempat berpikir hanya aku yang bisa membuatmu bahagia.

Oh iya.. Aku juga sudah mendengar kabar bahagiamu dari sebagian orang. Sedikit kesal sih, tapi aku pernah berjanji jika ada pria lain yang bisa membahagiakanmu lebih dari aku. Maka doaku mengiringi kebahagianmu itu. Tapi mendengarmu bahagia, itu sungguh menggembirakan bagiku, bagi seseorang yang sedang berkabar rindu. Karena tentunya kamu pasti tersenyum kembali seperti semula, aku sangat lama sekali tidak melihat senyum mu itu. Senyum yang tiba-tiba lalu memeluk tubuhku dari belakang, yang membuat aku tidak berucap kata sejenak  karena aku ingin merasakannya lebih lama lagi bukan hanya sekedar singgah.

Aku putus asa dengan rindu ini, maka dari itu aku menuliskan beberapa kalimat bodoh ini

Saat itu sangat bahagia sekali, tapi aku tahu semua itu hanya persinggahan sementara. Aku menginginkan masa itu terulang tapi jika itu terjadi aku tidak akan mengambil kesempatan itu. Karena aku hanya ingin menyampaikan kabar rindu ini, dan berjanji tidak akan memintamu lebih dari itu. Walau aku tahu itu sebagian kebohongan besarku. Untukmu yang saat ini sedang berlayar dilaut lepas, berhati-hatilah dengan ombak besar. Walau aku tahu pria disampingmu itu tangguh yang bisa menjagamu, tidak sepertiku . Aku hanya khawatir, tidak lebih.

***

Ada kalanya perahu ini tidak terus berlayar kelautan untuk mencari ikan dan kembali lagi singgah kedaratan. Barangkali perahu juga perlu singgah sejenak dari penat sehabis dihantam karam yang besar, sampai ada seseorang yang bisa meyakinkan bahwa perahu ini siap untuk berlayar kembali. Semoga aku dan kamu bertemu lagi suatu kesempatan lain waktu, dilaut lepas tanpa harus aku berkabar rindu kamu mengerti hal tersebut.***

Written by utautama
Pendengar Yang Mencoba Bercerita

Leave a Comment